Rabu, 25 Juni 2008

Kepada Allah semua kembali (1)

Apa tujuan kita hidup di dunia yang fana ini. Apakah kita hanya bersenang-senang saja atau kita tidak mempunyai tujuan sama sekali. Apakah kita sekedar bersenda gurau saja. Banyak manusia yang tertipu. Di dunia ini mereka hanya main-main dan senda gurau seperti yang diperingatkan oleh Allah.
“Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia....(QS Al An’aam(6) ayat 70)
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung hari kemudian itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS Al An’aam (6) ayat 32).
Kenapa kampung di hari kemudian itu lebih baik bagi orang bertaqwa, karena Allah menciptakan mati dan hidup ini adalah untuk diuji. Siapa yang paling bertaqwa akan beruntung di kampung hari kemudian.
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,( QS Al Mulk (67) ayat 2).
Bagi orang yang beragama Islam, tentunya mencari petunjuk melalui kitab suci Al Qur’an.Tujuan hidup manusia adalah beribadah atau mengabdi kepada Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz Dzaariyaat (51) ayat 56).
Ini tujuan hidup di dunia. Apakah ada tujuan setelah ini. Ya tujuan manusia adalah kembali kepada Allah. Saya mencatat ada 24 ayat yang menyatakan pada intinya bahwa kita akan kembali kepada Allah (lihat referensi). Apakah gampang kita kembali kepada Allah untuk memandang wajah Allah. Bukan hanya bertemu tetapi kembali kepada Allah. Apakah mudah kita menuju Allah ? Perlu ada upaya atau bekerja sungguh-sungguh. Kalau tidak bekerja atau berbuat dengan sungguh, mana bisa manusia menuju Tuhan-Nya.
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya “(QS Al Insysiqaaq (84) ayat 6).
Tuhan telah menggambarkan dan memperingatkan bahwa menuju Tuhan itu tidak mudah dan jalan menuju Tuhan merupakan jalan yang mendaki lagi sukar sebagaimana yang di firmankan dalam QS Al Balad(90) ayat 10-16).
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Sesungguhnya manusia dapat bertemu Allah dan dapat dilakukan di dunia ini. Apakah bisa ? Ya, tergantung kepada orangnya apakah orang itu dapat bertemu Allah di dunia ini. Bahkan dapat memandang wajah Allah di bumi ini. Kok bisa..? Coba simak firman Allah berikut ini :
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS Al Baqarah (2) ayat 115).
Yang bisa bertemu dengan Allah dan memandang Allah adalah seorang hamba Allah. Kalau bukan hamba Allah ya, pasti tidak dapat bertemu dengan Allah. Lha wong, sudah jelas kok firman Allah dalam surat Al Baqarah (2) ayat 186 dan Qaf (50) ayat 16.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS Al Baqarah (2) ayat 186)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”, (QS Qaf(50) ayat 16).
Manusia memang tidak bisa merasa yakin kalau tidak melihat dengan mata dan kepala (‘Ainul yaqin). Manusia tidak bisa melihat Allah dengan mata. Tetapi Allah dapat dilihat dengan ilmu, artinya orang bisa yakin dapat melihat Allah atau eksistensi-Nya melalui ilmu yang disebut dengan Ilmul yaqin. Orang yakin dan percaya Allah itu ada dan dapat dilihat eksistensinya melalui ilmu. Kalau hanya melihat Allah, hanya dengan ilmu, maka mereka pasti sholatnya tidak khusuk, masih berani melanggar apa-apa yang dilarang oleh Allah yang disampaikan dalam Al Qur’an. Orang masih berani melakukan kekerasan kepada orang lain. Orang masih berani melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme Orang masih berani mengumbar kemarahannya dan hawa nafsunya. Mereka tidak sabar. Mengapa orang masih berani melakukan kemungkaran? Cobalah disimak ayat berikut ini.
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah(2) ayat 45-46).
Mereka tidak khusuk. Mereka masih berani melanggar hukum-hukum Allah. Karena mereka belum yakin dengan haq (haqqul yaqin) atau belum haqqul yaqin bahwa mereka akan ketemu dengan Tuhanya. Tetapi kalau mereka benar-benar percaya dan yakin menurut kalbunya atau haqqul yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya, pasti mereka khusuk sholatnya, mereka pasti takut dan tidak berani melanggar apa-apa yang dilarang Allah, mereka pasti tidak berani KKN, mereka pasti tidak berani mengumbar kemarahan dan hawa nafsunya. Pasti mereka sangat sabar, santun dan berakhlaq yang baik (ahlaqul karimah).
Wa llahu ‘alam bish shawab.

Selasa, 24 Juni 2008

Bagaimana menjadi sukses ?

Apa kata Andrie Wongso, seorang motivator nomor wahid di Indonesia. Sukses bukan milik orang-orang tertentu. Sukses milik anda, milik saya. Dan milik siapa saja yang menyadari, menginginkan dan memperjuangkan dengan sepenuh hati.
Kalau orang tidak berjuang, tidak sungguh-sungguh dan tidak berjihad dalam meraih kesuksesan, mana mungkin akan menjadi orang sukses. Seharus umat Islam tidak perlu mencari motivator yang paling ulung. Mestinya kita jadikan Alquran itu sebagai petunjuk, hidayah dan motivator bagi hidup kita. Apa kata firman Tuhan dalam Alquran.
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati untuk mengajari kebenaran dan nasehat menasehati untuk mengajari kesabaran”. (QS.Al ‘Ashr)
Untuk menjadi sukses (beruntung) adalah orang-orang :
1. Yang beriman
2. Yang melakukan perbuatan yang baik ( amal saleh)
3. Yang saling menasehati tentang kebaikan dan kebenaran
4. Yang saling menasehati untuk menjadi tetap sabar
Pengertian sukses atau beruntung ini adalah sukses sekarang di dunia dan sukses di hari kemudian ( yaumil akhir )
Untuk syarat yang pertama yaitu, beriman tidak perlu dibahas lebih lanjut, karena merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi.
Nah, marilah kita bahas syarat ke dua dan ketiga. Pengertian berbuat baik (amal saleh) itu tidak terbatas kepada amal saleh dalam pengertian ibadah mahdhoh tetapi berbuat baik dalam pengertian ghoiru mahdhoh. Di bidang manajemen misalnya, merencanakan, mengorganisir, mengkoordinasi, memotivasi dan mengawasi adalah suatu perbuatan. Jadi agar dapat sukses dalam manajemen, ya harus merencanakan dengan baik, mengorganisir dengan baik dan mengawasi dengan baik. Ini juga termasuk perbuatan yang baik (amal saleh).
Demikian bila sukses dalam bidang marketing, orang harus menjual dengan baik dan benar. Artinya orang harus belajar bagaimana cara menjual dengan baik dan benar. Belajar dari pakar-pakar marketing misalnya Philips Kotler, Hermawan Kertajaya, Gabriel Steinhardt dan E. Jerome McCarthy. Dalam Surat Al ‘ashr (103) ayat 3, ini para pakar ini memberikan nasihat bagaimana menjual dengan baik dan benar. Nah kalau kita berhasil dalam usaha, maka kita wajib memberikan nasihat kepada orang lain (sharing) bagaimana usaha kita bisa berhasil. Ini yang dinamakan saling memberi nasihat tentang kebaikan dan kebenaran dalam persepektif manajemen. Jadi menasihati itu tidak terbatas pada kebenaran dan kebaikan tentang agama.
Yang berikutnya dalam hal kita masih belum berhasil dalam usahanya, maka kita harus sabar dan konsisten. Kita bisa minta nasihat kepada ahlinya mengapa usaha kita tidak berhasil. Kita harus sabar dan kosisten dalam mempelajari kekurangan-kekurangan untuk menuju keberhasilan. Para pakar psikologi dapat memberikan nasihat kepada kita bagaimana kita harus bangkit dari kegagalan, kita harus sabar dan konsisten. Kesimpulannya bahwa orang-orang yang mau belajar (minta nasihat) kepada pakarnya dan melaksanakan dengan penuh kesabaran dan konsistensi serta dilaksanakan atau dilakukan semuanya dengan baik dan benar. InsyaAllah, akan menjadi orang yang beruntung dan sukses. Tuhan akan meneguhkan langkah kita dan meneguhkan kedudukan kita.
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS Muhammad (47) ayat 7.
Menolong Allah dapat diartikan melaksanakan Sunnatullah atau meng-aplikasikan sebagian dari ilmu Allah untuk meraih kesuksesan di dunia dan di hari kemudian.
Al Quran telah menyemangati atau memotivasi kita untuk selalu belajar (minta nasihat) dan belajar dari orang lain yang berhasil. Dan kalau belum berhasil kita harus sabar dan salat serta konsisten, tidak boleh berputus asa dan selalu bermohon kepada Allah agar kita berhasil atau sukses sekarang di dunia ini dan di hari kemudian.
Wa llahu ‘alam bi shawab.

Berbedakah Surga dan Jannah, Dar dan Maqam ?

Kata jannah artinya kebun atau taman yang terlindungi oleh pandangan manusia. Dan biasanya diartikan surga. Sedang surga sendiri berasal dari agama Hindu “Svarga atau Swarga. Kemudian diserap menjadi Surga. Pengertian surga dalam agama Hindu mungkin berbeda dengan jannah dalam agama Islam. Untuk memperjelas arti jannah, perlu kiranya mencermati ayat-ayat yang berkaitan dalam Al Quran. Nama-nama jannah dalam Al Quran ada beberapa sebutan.

Yang pertama, jannatu ‘adn. ‘Adn dari kata kerja ‘adana artinya merabuk. Kalau mengacu pada kata ini mungkin artinya suatu tempat/tanah yang subur (tanah yang telah dirabuk). Jannatu ‘adn bisa berarti taman yang subur. Dalam Al Qur’an, surat Ar Ra’d (13) ayat 23 menggambarkan bahwa orang yang melaksanakan shalat, menginfaqkan sebagian rezekinya dan menolak kejahatan dengan kebaikan, mereka disediakan jannatu ‘adn. Suatu taman dimana mereka berkumpul dengan orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri/suami dan anak cucunya. Dalam QS Fathir (35) ayat 33 menjelaskan bahwa mereka juga dimasukkan kedalam suatu taman dimana mereka diberi perhiasan berupa gelang-gelang dari emas, mutiara dan pakaian-pakaian dari sutera. Dalam QS Al Bayyinah (98) ayat 8 menggambarkan bahwa jannatu ‘adn suatu taman yang dibawahnya ada sungai-sungai mengalir. Didalam jannatu ‘adn ini ada emas dan air. Air ini terdiri dari unsur hidrogen dan oksigen. Sedang emas rumus kimianya Aurum (Au). Kalau ada hidrogen, oksigen dan emas (Aurum) , berati tempat itu sama dengan kondisi yang ada di bumi. Tidak diketahui apakah bumi itu seperti yang kita pijak ini atau bumi lain yang ada di galaxy atau entah dimana, yang penting keadaan itu seperti di bumi yang kita tinggali ini. Mereka awet dan bermasa-masa di Jannatu ‘adn ini. Kholid ini artinya kekal sementara atau awet dan abadu artinya masa. Abada artinya berdiam atau tinggal. Berdiam atau tinggal itu berarti membutuhkan masa atau waktu. Tidak ada yang kekal kecuali Allah.

Yang kedua, jannatu na’im. Jannatu na’im ini tersebut dalam QS Al Waaqi’ah (56) ayat 12. Na’im berasal dari kata na’ima artinya kelapangan ,kehidupan yang baik dan hidup senang dan mewah serta kehidupan yang penuh kenikmatan dan kesejahteraan. Jannatu na’im berarti taman yang penuh kenikmatan dan kesejahteraan. Jannah ini diperuntukkan kepada orang-orang yang beriman paling dahulu dan orang–orang yang dekat dengan Allah.

Yang ketiga, Jannatul ma’wa. Jannatul ma’wa ini tersebut dalam QS As Sajdah (32) ayat 19. Pengertiaan ma’wa menurut Yusuf Ali adalah hospitable home atau tempat tinggal yang penuh dengan keramahan dan hiburan (entertainment menurut Dr M Taquid-Din dan Dr M.Khan). Jannatul ma’wa ini merupakan taman sebagai tempat tinggal penuh keramahan, kenyamanan dan penuh hiburan. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh disediakan jannatul ma’wa.

Yang keempat, Jannatul firdaus. Firdaus ini berarti keluasan, kelapangan, kebun, taman, nama burung dan yang menopang (pohon anggur). Dalam QS Al Kahfi (18) ayat 107 menggambarkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh disediakan Jannatul Firdaus. Kalimat ini mungkin berarti taman atau kebun luas dan tedapat burung-burung dan penuh dengan pohon anggur.

Kata Dâr artinya rumah, tempat tinggal, kampung, atau negeri. Untuk memperjelas arti Dâr, perlu kiranya mencermati ayat-ayat yang berkaitan dalam Al Quran. Nama-nama dâr dalam Al Quran ada beberapa sebutan.

Yang pertama, Dârussalam. Dalam QS Al An’am (6) ayat 1`27 menerangkan bahwa orang-orang yang melakukan amal saleh (perbuatan baik) disediakan Darussalam. Pengertian Darussalam adalah rumah yang penuh kedamaian dan keselamatan (menurut Yusuf Ali diartikan sebagai home of peace)

Yang kedua, Dâral muqomah. Kalimat ini berarti suatu tempat tinggal dimana didalamnya orang-orang tidak merasa lelah dan tidak merasa lesu. Tempat ini diperuntukkan kepada orang-orang yang bersyukur sebagaimana QS Faathir (35) ayat 35.

Yang ketiga, Dârul Akhirat. Kalimat ini berarti tempat tinggal ,kampung atau rumah dikemudian hari (akhirat). Akhirat ini mempunyai pengertian hari kemudian seperti dalam QS Adh Dhuhaa (93) ayat 4.Dalam QS Al An’am (6) ayat 32 menjelaskan bahwaa orang-orang bertaqwa itu lebih baik berada di rumah atau kampung dikemudian hari (menurut Yusuf Ali kampung akhirat diterjemahkan home in the hereafter)

Maqamin Amiin. Dalam QS Ad Dukhaan (44) ayat 51 menerangkan bahwa orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman. (place of security menurut Dr M Taquid-Din dan Dr.M Khan).

Wa llohu ‘alam bi shawab.


Rabu, 18 Juni 2008

Neraka dan Nâr (Api) berbeda ?

Kata “Nâr” dalam Al Quran diterjemahkan menjadi “Neraka”. Kata neraka ini berasal dari Agama Hindu “ Naraka” yang kemudian diserap menjadi neraka. Di dalam agama Islam tidak ada neraka yang ada adalah kata “Nâr”. Pengertian neraka dalam agama Hindu mungkin berbeda dengan nâr di agama Islam. Untuk mengetahui pengertian Nâr yang sesungguhnya, perlu dikaji melalui kajian kosa-kata. Menurut Ar Raghib Al Ashfahani mengatakan bahwa kata Naar dipakai menunjukkan “rasa panas”, baik panasnya perasaan, panas api atau panasnya (berekecamuknya) perang. Nâr ini dalam Al Quran ada beberapa sebutan.

Yang pertama, huthamah. Menurut Yusuf Ali huthamah itu artinya ”to Breaks to Pieces” atau pecah atau hancur berkeping-keping. Huthamah ini berasal dari kata hathama yang artinya menghancurkan atau memecahkan. Kata Huthamah ini ditemukan dalam QS Al Humazah. Humazah berasal dari kata hamaza yang artinya memeras, menekan dan mencela. Dalam QS Al Humazah (104) menjelaskan bahwa orang yang memeras, menekan, mencela, mengumpulkan harta dan suka menghitung-hitung hartanya serta kikir tidak mau infak, akan dihancurkan hidupnya melalui panas yang menyala sampai ke hatinya. Hati yang sangat panas bergelora laksana api yang menyala disebut fu’ad dan jamaknya af ’idah.

Yang kedua, Hawiyah. Kata hawiyah ini berada di dalam QS Al Qaari’ah. Qaariah ini berarti bencana atau malapetaka. Bencana ini digambarkan, dalam surat ini , manusia bertebaran seperti anai-anai dan gunung-gunung seperti bulu berhamburan. Sedang hawiyah dapat berarti jurang yang dalam, sumur yang dalam dan hawa atau udara (atmosphere). Tahukah kamu “hawiyah” ? Api yang sangat panas. Pengertian hawiyah yang sesuai dengan api yang panas tentunya adalah hawa atau udara. Bagi orang yang mempunyai berat timbangannya berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan sebaliknya, bagi orang yang ringan timbangannya berada dalam kehidupan yang hawanya sangat panas atau situasinya sangat panas atau paling tidak dalam kehidupan yang tidak memuaskan. Kebalikan dari kehidupan yang memuaskan.

Yang ketiga, Jahim. Kata jahim ini berasal dari kata jahama artinya menyalakan. Al jahiimu artinya api yang menyala-nyala atau tempat yang sangat panas. Dalam QS Infithaar digambarkan bahwa bila langit terbelah dan bintang jatuh berserakan , lautan menjadi meluap dan kuburan menjadi terbongkar atau terbalik, maka orang-orang alim dan berbudi akan berada dalam kebahagiaan (Inggris :bliss). Sedangkan orang-orang yang jahat dan durhaka akan berada dalam api atau tempat yang sangat panas yang sangat tidak membahagiakan alias sengsara.

Yang keempat, Saqar. Kata saqar ini berasal dari kata saqara artinya menyengat. Panas yang menyengat. Termasuk panas hati karena saking sakitnya hati. Dalam QS Al Muddatstsir bahwa bagi yang menentang ayat-ayat Allah, akan diberikan oleh Allah beban pendakian yang sangat memayahkan. Dan bagi orang yang berpaling dari kebenaran dan sombong, akan di masukkan kedalam panas yang menyengat (saqara). Tahukah kamu apakah “saqar” itu ? Saqar itu adalah tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, yang membakar kulit manusia. Sesungguhnya saqar itu adalah salah satu bencana dan ancaman bagi manusia. Bagi orang yang mendustakan Hari Pembalasan, membicarakan yang bathil, tidak mengerjakan salat dan tidak memberi makan orang miskin, maka akan dimasukkan kedalam saqar atau panas nya hati yang penuh kesengsaraan dan penuh kesedihan. Sedang golongan kanan dimasukkan ke dalam taman-taman yang penuh kesenangan dan kegembiraan.

Yang kelima, Sa’iir. Kata sa’iir ini ini dari kata sa’ara yang artinya menyalakan. Sa’iir artinya nyala api atau api yang menyala. Dalam QS Al Mulk menggambarkan bahwa orang yang tidak percaya bahwa Allah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji manusia, dan orang yang tidak percaya bahwa Allah menciptakan 7(tujuh) langit yang berlapis-lapis dan seimbang. Orang-orang tersebut akan di adzab yang panas menyala-nyala. Adzab ini berarti segala sesuatu yang menimbulkan kesulitan atau menyakitkan dan memberatkan beban jiwa dan atau fisik. Adzab ini diberikan karena merupakan sanksi yang dijatuhkan kepada manusia. Sa’iir bisa juga diartikan beban jiwa yang sangat berat atau jiwa yang panas menyala-nyala.

Yang keenam, lazha. Kata lazha ini berarti menyala-nyala. “Talazha wal tazha rrojulu “ artinya menyala-nyala kemarahannya. Dalam QS Al Lail (90) menggambarkan bahwa orang-orang yang menafkahkan harta dan membersihkan dengan penuh ridha terhadap Allah, akan mendapatkan kepuasan (Inggris: satisfaction) dan kesenangan (Inggris: pleasure). Sebaliknya bagi mereka yang bakhil dan merasa dirinya cukup tidak perlu pertolongan. Mereka berarti menyiapkan jalan yang penuh kesulitan dan kesengsaraan.. Bahkan orang-orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari iman, maka mereka diberikan peringatan dengan api yang menyala-nyala atau dimasukkan kedalam kesengsaraan hati yang panas menyala-nyala.

Yang ketujuh, Jahannam. Kata ini berasal dari bahasa Parsi, yang berarti sumur yang dalam atau sesuatu yang sangat dalam. Kata “Naru jahannama” berarti api yang berada disuatu yang sangat dalam. Dalam QS At Taubah (9) ayat 34 dan 35 menggambarkan bahwa orang-orang yang memakan harta orang dengan jalan bathil dan menghalang-halangi orang di jalan Allah serta orang-orang menyimpan kekayaan ( emas dan perak ) dan tidak meng-infaqkan pada jalan Allah, maka akan mendapat adzab (beban kesulitan atau kesengsaraan) yang sangat pedih pada hari ketika harta kekayaan menimbulkan panas di dalam api yang berada di sesuatu yang dalam. Panas itu akan ditempelkan (atau dirasakan ) pada dahi, lambung dan punggung agar orang-orang merasakan akibat harta yang mereka simpan.

Dari penjelasan-penjelasan yang disampaikan diatas, bahwa nâr itu lebih berarti panasnya api yang berkecamuk dalam fu’ad, hati dan jiwa manusia, mengingat pengertian adzab itu merupakan antara lain beban berat dalam jiwa.
Wa llahu ‘alam bi shawab.


Selasa, 17 Juni 2008

Takdir, Kehendak Allah dan Kehendak Manusia (Terakhir)

3. Berakhirnya alam semesta
Allah itu Dzat yang eksistensinya tidak berawal (Al-'Awwal). Atas kehendak-Nya, terciptalah alam semesta dengan sesempurnanya, yang memberlakukan qadar atau kadar, ukuran dan rumusan-rumusan-Nya secara pasti dan sempurna. Di dalam alam semesta ini berlaku qadha Allah, dimana alam dan manusia tunduk kepada hukum-hukum atau kaidah-kaidah antara lain hukum sebab akibat (tasalsul), daur (siklus) dan hukum al imkan (probabilitas). Contoh, Allah telah menetapkan rumusan atau formula air adalah H2O. Inilah qadar Allah. Sedang qadha Allah dapat digambarkan bahwa hydrogen tidak bisa jadi air tanpa ada Oksigen (hukum sebab akibat). Hukum ini akan berakhir pada dzat yang wajib ada. Hukum kausalitas dan daur (siklus) merupakan ilmu Allah. Karena alam (termasuk mati dan hidup) ini ciptaan Allah maka juga berlaku daur (siklus) dan tasalsul (sebab akibat) sampai Allah menghendaki berakhir.

”Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS Al ‘Ankabuut (29) ayat 19).

“Yang menjadikan (menciptakan) mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,.(QS Mulk (67) ayat 2).

”Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?( QS Al Baqarah (2) ayat 28).

“Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. (QS Huud (11) ayat 57)

Kematian dan kehidupan juga berulang. Bahkan kaum atau ataupun bangsa pun bisa berulang. Ini mengindikasikan adanya suatu daur atau siklus ( Baca tulisan Siklus Kehidupan dan Kelahiran Kembali ). Allah menciptakan makhluk dan mngulanginya lagi. Ini menunjukkan siklus atau daur.

”Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya kembali , agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka. QS (10) 4.

To Him will be your return- of all of you. The promise of Allah is true and sure. It is He Who beginneth the process of creation, and repeateth it, that He may reward with justice those who believe and work righteousness; but those who reject Him will have draughts of boiling fluids, and a penalty grievous, because they did reject Him. (Yusuf Ali)

Alam semesta juga berulang (siklus). Ini digambarkan oleh Allah dengan bergulung-gulungnya langit seperti awal penciptaan alam semesta. Begitulah Allah mengulanginya.

”Pada hari itu (Kami) gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS Al Anbiyaa(21) ayat 104)

Ayat ini menunjukkan siklus (daur) atau pengulangan. Pengulangan sampai kapan ? Ya, tentunya sampai yang dikehendaki oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Yang pada akhirnya semuanya kembali kepada Allah. Yang digambarkan oleh Allah bahwa pada dasarnya semua binasa kecuali Wajah-Nya, kemudian semuanya kembali kepada Allah.
”Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengulangi kembali; kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan ”(QS Ar Ruum (30) ayat 11).
Yusuf Ali:
It is Allah Who begins (the process of) creation; then repeats it; then shall ye be brought back to Him.

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” ( Al qashash(28) ayat 88)

Kembali kepada Allah artinya kembali kepada Dzat yang eksistensinya tidak berakhir (Al-'Akhir). Kalau boleh digambarkan, maka dapat dilihat Gambar dibawah ini., agar lebih mudah dimengerti.
Wa llahu ‘alam bi shawab.