Jumat, 16 Januari 2009

Apakah Tuhan Itu Adil ?

Pertanyaan diatas sungguh menggelitik. Semua orang percaya bahwa Tuhan itu Maha adil. Tetapi faktanya banyak yang secara tidak sadar dalam hatinya mengatakan mengapa saya menderita dan atau cacat seperti ini. Mengapa musibah selalu menimpa saya ? Bahkan ada lagu yang berjudul “Takdir Itu Kejam”, yang dilarang beredar. Sebenarnya pencipta lagu itu terinspirasi dari masyarakat yang menanyakan mengapa seseorang itu ditakdirkan menderita. Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dalam al Qur’an. Bahwa seseorang atau umat yang binasa itu disebabkan karena dosa-dosanya [QS Yasin (36) ayat 31]. Demikian juga orang cacat atau menderita akibat musibah, juga dikarenakan dosa-dosanya sebagaimana dalam ayat 49 Surat Al Maidah (5) menyatakan bahwa “……maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka…..”. Orang percaya bahwa kalau manusia cacat, hilang kaki dan tangannya dikarenakan bencana alam seperti gempa bumi, banjir dan hujan batu dan awan panas (gunung meletus), itu disebabkan karena dosa-dosanya seperti yang tersebut dalam ayat tersebut diatas. Mereka juga beralasan bahwa “…..Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri “ [QS At Taubah (9) ayat 70]. Mereka juga percaya bahwa kalau musibah itu datang kepada mu, maka itu bukan dari Allah tetapi dari (kesalahan) mu sendiri [QS An Nisaa’ (4) ayat 79]. Dapat ditarik kesimpulan bahwa segala musibah berupa cacat tubuh akibat gempa bumi, atau jatuh miskin karena rumah dan kebunnya dihantam lava panas dan sebagainya, maka itu dikarenakan dosa-dosa dan kesalahan mereka sendiri. Cacat tubuh ini bisa terjadi pada siapa saja pada saat musibah itu datang, bisa bayi, anak kecil atau orang yang sudah dewasa. Ketika yang terkena musibah itu bayi dan anak kecil, maka timbul pertanyaan dosa atau kesalahan apa yang telah dilakukan si bayi dan anak kecil yang masih balita ini ? Sama pula pertanyaan yang dapat diajukan ketika seorang ibu muda yang melahirkan anak cacat, tiada tangan dan kaki. Dipandang dari sudut ibu, .. benar bahwa musibah itu dikarenakan dosa dan kesalahan ibu. Tetapi bagi si bayi yang lahir cacat itu… Dia menanggung dosa dan kesalahan siapa ? Apakah dia sudah melakukan perbuatan dosa ? Ada yang menjawab : “ “Oh itu kehendak Tuhan… Oh itu hak prerogative Tuhan”. Seharusnya orang-orang harus konsisten menjawab pertanyaan ini. Mengapa orang dewasa yang cacat karena musibah, disebabkan oleh dosa atau kesalahannya, tetapi kalau si bayi yang cacat kok disebabkan karena kehendak Tuhan (takdir) atau hak prerogative Tuhan. Ada yang mengatakan bahwa kehidupan itu seperti mobil. Tidak mungkin mobil itu dibuat sama bentuknya misalnya, semua terdiri dari roda. Tidak mungkin jalan kalau ndak ada busi, mesin, bensin dan sebagainya. Itulah kehidupan yang beragam. Yang menjadi roda pasti tidak bertanya,.. lah wong barang mati. Kalau manusia pasti bertanya (karena punya akal) kenapa saya yang dijadikan roda atau kenapa saya yang dilahirkan cacat ? Yang benar adalah dalam menentukan apakah sesuatu itu dijadikan busi, ataukah mesin ataukah roda pasti ada pertimbangan yang tidak merugikan yang bersangkutan. Allah itu Maha Kuasa tetapi tidak sewenang-wenang. Allah itu Maha Adil. Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah tidak mungkin berbuat dholim (aniaya). Dholim itu adalah perbuatan buruk. Tidak mungkin Allah itu berbuat buruk dan berbuat sewenang-wenang. Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun." [QS Al Kahfi (18) ayat 49]. Apa saja nikmat atau yang baik-baik saja itu yang diperoleh manusia pasti dari Allah [QS An Nisaa’ (4) ayat 79]. Allah itu pasti memberikan yang terbaik dan penuh pertimbangan. Nah, sekarang apa yang menjadikan pertimbangan ? Ya, firman Allah yang ada dalam surat Al Maidah (5) ayat 5 : “……maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka…..”. Kalau manusianya baik, pasti oleh Allah tidak memberikan musibah. Allah berkehendak menimpakan musibah hanya kepada manusia yang penuh dosa dan kesalahan. Dimana Allah mencatat segala perbuatan dan jejak rekam yang telah dilakukan ? Catatan itu namanya Lauh Mahfuz. “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)” [QS Yasin (36) ayat 12]. Nah, jikalau bayi lahir cacat atau setelah lahir kemudian tertimpa musibah sehingga menjadi cacat, ini pasti disebabkan karena dosa-dosa atau kesalahan yang telah diperbuatnya yang telah dicatat di Lauh Mahfuz. Karena itu musibah bagi dirinya. Dosa-dosa inilah yang menjadi pertimbangan oleh Allah untuk menetapkan kebaikan dan keburukan bagi manusia sebelum manusia dibangkitkan kembali. Untuk menyakinkan bahwa pada saat manusia dibangkitkan kembali dengan berbagai rupa sebanyak 12 kelompok (sumber dari sahabat Ma’adz bin Jabal yang dikutip dari www.dwi-setiawati.web.id), dua diantaranya adalah “dibangkitkan tanpa tangan dan kaki. Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan " Mereka adalah orang-orang yang menggangu tetangganya. Maka inilah ganjarannya dan neraka tempatnya ." dan dibangkitkan dalam bentuk babi. Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan "Mereka adalah orang-orang yang bermalas-malas melakukan shalat Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya ."
Kalau memang nâr itu merupakan api yang menyala-nyala (riil), kenapa manusia dibangkitkan dalam keadaan cacat dan dijadikan babi. Kenapa tidak langsung dimasukkan kedalam nâr, pasti akan hancur lebur seperti orang di kremasi. Tidak perlu dicacatkan lagi dan tidak perlu dijadikan babi. Jadi nâr itu dapat di indikasikan berada di bumi ini. Sebagai referensi dapat pula dibaca artikel dalam kategori “Kebangkitan”. Orang mungkin berpendapat bahwa orang yang meninggal itu dibangkitkan lagi seperti orang yang belum meninggal, baik tubuh maupun rupanya. Ruh akan dipertemukan dengan tubuh [QS At Takwir (81) ayat 7]. Tubuh yang mana tergantung perbuatannya dulu. Kalau dulu suka mengganggu tetangganya, maka ruh-nya akan dipertemukan kepada tubuh yang yang tidak punya tangan dan kaki. Demikian juga kalau dulu suka bermalas-malasan melakukan shalat, maka ruhnya akan dipertemukan dengan seekor babi yang akan lahir. Simak surat Al Waaqi’ah (56) ayat 60-61 sebagai berikut,
Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,
untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu dan menciptakan kamu kelak dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.
We have decreed death to you all, and We are not unable, To transfigure you and create you in (forms) that you know not. (Terjemahan dari Dr. M. Taqiud-Din & Dr. M. Khan )
Dengan demikian dapat dijelaskan menurut ayat diatas bahwa suatu misal, setelah Tuan A itu meninggal dan kemudian dibangkitkan lagi itu bentuknya tidak seperti Tn A sebelum dibangkitkan, tetapi dibangkitkan dengan tubuh dan rupa yang tidak kamu ketahui. Jadi bentuk tubuh dan rupa kita pasti tidak sama dengan tubuh dan rupa kita di kehidupan sebelumnya. Tubuh dan rupanya bisa jadi cacat atau dijadikan babi sebagaimana yang disebut dalam hadits diatas. Ruh kita tidak mengenal tubuh dan rupa kita di kehidupan sebelumnya, tetapi dapat merasakan adzab atau musibah yang ditimpakan kepada kita. Wallahu ‘alam bish shawab.

Rabu, 31 Desember 2008

Apa Arti Musibah Bagi Manusia ? (3)

Seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa musibah itu bisa merupakan adzab atau siksa yang sangat besar, misalnya hujan batu kerikil, suara keras yang mengguntur, banjir dan gempa bumi. [QS Al Ankabut (29)_ ayat 40]. Tetapi musibah itu juga dapat berupa siksa atau adzab yang tidak terlalu besar misalnya keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesusahan, gangguan, kesedihan. Orang tertusuk duri pun juga termasuk siksa atau adzab yang cukup ringan. Bala itu artinya ujian atau cobaan. Kalau ujian itu bukan merupakan siksa atau adzab tetapi merupakan sesuatu yang ditimpakan kepada manusia untuk mengetahui sampai sejauh mana kadar iman atau taqwa manusia tersebut. Yang ditimpakan itu adalah yang sifatnya hanya sedikit dan hanya merupakan sedikit kekurangan. Apakah kekurangan harta, sedikit kelaparan, sedikit ketakutan dan sebagainya. Untuk musibah dan bala dapat membacanya pada artikel “Apa arti musibah bagi manusia (1) dan (2)”. Nah, sekarang yang dibahas kali ini adalah fitnah. Arti fitnah ini juga sering diartikan dengan cobaan. Fitnah mempunyai beberapa arti yaitu godaan (trial) seperti dalam ayat berikut ini.

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلاَ تَفْتِنِّي أَلاَ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُواْ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

Waminhum man yaqoolu ithan lee wala taftinnee ala fee alfitnati saqatoo wainna jahannama lamuheetatun bialkafireena

Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah." Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah . Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.

And among them is he who says:"Grant me leave (to be exempted from Jihad) and put me not into trial." Surely, they have fallen into trial. And verily, Hell is surrounding the disbelievers. [QS Taubah (9) ayat 49]

Arti yang kedua adalah penganiayaan. …..Berbuat fitnah itu lebih besar dosanya dari pada membunuh....... [QS Al Baqarah (2) ayat 217]. Jadi berbuat penganiayaan itu lebih besar dosanya dari pada membunuh.

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ

Sedang yang ketiga fitnah mempunyai arti alasan; subterfuge, sebagaimana dalam Surat Al An’aam (6) ayat 23.

ثُمَّ لَمْ تَكُن فِتْنَتُهُمْ إِلاَّ أَن قَالُواْ وَاللّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ

Thumma lam takun fitnatuhum illa an qaloo waAllahi rabbina ma kunna mushrikeena

Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah".

There will then be (left) no subterfuge for them but to say: "By Allah our Lord, we were not those who joined gods with Allah."

Fitnah sering dikaburkan dengan bala (cobaan), sebagaimana dengan ayat berikut ini.

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

WaiAAlamoo annama amwalukum waawladukum fitnatun waanna Allaha AAindahu ajrun AAatheemun

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. [QS Al An faal (8) ayat 28].

Demikian juga fitnah dalam ayat dibawah ini juga dikaburkan dengan bala (cobaan).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Kullu nafsin thaiqatu almawti wanablookum bialshsharri waalkhayri fitnatan wailayna turjaAAoona

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [QS Al Anbiyaa’ (21) ayat 35].

Sebenarnya dalam dua ayat terakhir ini fitnah diterjemahkan dengan cobaan. Sedangkan cobaan atau ujian itu artinya adalah bala. Fitnah disini sesungguhnya mempunyai arti godaan atau hasutan. Allah menguji atau memberikan cobaan (bala) kepada manusia dengan godaan atau hasutan (fitnah) berupa kebaikan dan keburukan. Allah juga memberikan godaan atau hasutan (fitnah) tetapi tidak dalam pengertian menguji, karena pada dasarnya jiwa manusia itu dilhamkan oleh Allah jalan kefasikan dan ketaqwaan [QS Asy Syams (91) ayat 8].

Wa llahu ‘alam bish shawab.

Selasa, 30 Desember 2008

Tuhan, Mengapa Engkau Tidak Menolong Mereka ?

Pada pagi hari tanggal 29 Desember 2008 terdengar berita bahwa jet-jet tempur Israel kembali menghujani dengan puluhan misil ke permukiman penduduk Palestina di seantero jalur Gaza. Akibat serangan mendadak itu 195 orang dilaporkan tewas dan 310 lainnya luka-luka. Tidak henti-hentinya warga Palestina menderita akibat ulah Israel. Bahkan penderitaan warga Palestina ini sudah dimulai sejak 60 (enam puluh ) tahun silam dan sudah ribuan warga Palestina tewas dibunuh oleh Israel sejak Israel menduduki tanah Palestina sejak tahun 1948. Mengapa warga Palestina mesti menderita begitu lama ? Enam puluh tahun itu bukanlah waktu yang pendek. Tuhan, kepada siapakah Engkau berpihak ? Mengapa do’a warga Palestina yang sangat menderita ini tidak Engkau kabulkan ? Bahkan do’a untuk kemenangan bangsa Palestina telah disampaikan dan dikumandangkan oleh umat Islam di seluruh dunia. Mengapa do’a yang panjang ini seakan-akan tidak Engkau dengar ? Sedangkan Engkau telah berjanji dalam firman-Mu ” Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” [QS Ar Ruum (30) ayat 47]. Dan ”Sebagai janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS Ar Ruum (30) ayat 6].

Apabila Allah tidak menolong bangsa Palestina, apakah ada yang yang salah, yang dilakukan oleh bangsa Palestina ? Perlu introspeksi total secara tulus dan berani. Hanya orang-orang yang beriman yang wajib ditolong oleh Allah. Siapakah orang yang beriman itu ?
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” [QS Al Anfaal (8) ayat 2-3]

Agar kita mendapat pertolongan dari Allah disamping persyaratan iman, kita wajib menolong Allah, sebagaimana yang disampaikan Allah dalam Al Qur’an.
”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [QS Muhammad (47) ayat 7]. Menolong Allah dalam ayat ini menurut Departmen Agama diterjemahkan menolong agama Allah. Menolong Allah itu seyogyanya diterjemahkan ”melaksanakan sunatullah” atau menerapkan ilmu Allah. Seandainya engkau di dalam kamar yang terkunci dari dalam dan engkau meminta tolong kepada Allah untuk keluar dari kamar. Walaupun engkau berdoa dalam hati dua hari dua malam, pasti engkau tidak akan keluar dari kamar. Tetapi kalau engkau melaksanakan ilmu Allah dengan berteriak minta tolong atau berjalan mendekati pintu dan membuka pintu dengan kunci, maka engkau akan keluar dari kamar. Dengan demikian menolong Allah itu berarti menggunakan segala daya upaya baik tenaga dan pikiraan untuk menyelesaikan persoalan dan Allah akan menolongnya dan meneguhkannya. Kembali kepada bangsa Palestina, berimanlah kepada Allah sebenar-benarnya dan gunakanlah segala daya upaya baik tenaga dan pikiran. Dan bagi umat Islam seluruh dunia khususnya umat Islam di Timur Tengah bantulah bangsa Palestina karena kita telah diperintahkan oleh Allah untuk saling tolong menolong dalam hal kebajikan dan ketaqwaan.Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”[QS Al Maa’idah (5) ayat 2]
Semoga Allah segera menolong bangsa Palestina dari segala penderitaan dan kembali kepada tanah tumpah darahnya.
Wa llahu ’alam bish shawab.



Senin, 22 Desember 2008

Ulil Albab (2) Siapakah Mereka ?

Dalam Al Qur’an banyak ditemui ayat-ayat yang menerangkan tentang Ulil Albab. Siapakah mereka itu ? Tanda-tanda atau ciri-ciri Ulil Albab adalah:

(1) Merekalah yang memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali Imran (3) ayat 190-191]. Adakah umat Islam yang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ? Pasti ada ! Hanya saja mereka belum mendunia atau belum dikenal banyak orang. Kebetulan yang meneliti dan memikirkan tentang teori kosmologi, gravitasi kuantum dan lubang hitam adalah Stephen William Hawking, seorang professor di bidang fisika teoritis. Sepertinya, kehadiran Hawking di dunia sudah ditunggu-tunggu untuk meneruskan pekerjaan Newton dan Einstein dalam mengupas tabir semesta. Dikatakan dalam Al Qur’an bahwa Tuhan tidak menciptakan langit dan bumi ini dengan sia-sia. Tetapi alam semesta diciptakan dengan perhitungan yang sangat luar biasa dan dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan umat manusia, sehingga muncul kata-kata dari Einstein dan Bose yang tekenal: “ Tuhan tidak melempar dadu”.

(2) Mereka selalu memikirkan penciptaan langit dan bumi, maka mereka yang dapat mengambil pelajaran [ QS Al Baqarah (2) ayat 269]. Banyak pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari penciptaan alam semesta, misalnya mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia [QS Yusuf (12) ayat 111]. Mereka yang melakukan penelitian sejarah umat manusia ini tentunya adalah para antropolog. Tokoh antropolog Islam yang terkenal di dunia adalah Antropolog asal Uganda Mahmood Mamdani. Tokoh yang terkenal yang mengambil pelajaran tentang isi pokok-pokok Al Qur’an [QS Ali Imran (3) ayat 7) adalah Syekh Yusuf al-Qaradawi. Yang mengambil pelajaran di bidang ekonomi adalah Muhammad Yunus, penerima hadiah Nobel 2006, karena jasanya mengembangkan industri kecil di Bangladesh dengan memberikan pinjaman kepada pengusaha-pengusaha kecil yang miskin melalui Grameen Bank. Orhan Pamuk yang juga pemenang hadiah Nobel 2006 asal Turki, karena mengambil pelajaran di bidang sastra. Sedang peraih Nobel di bidang kedokteran tahun 2007 Mario Capecchi, Martin Evans dan Oliver Smithies. Rasanya tidak berlebihan jika ditampilkan pula tokoh Indonesia yang mendapatkan penghargaan Habibie Award Tahun 2007. Prof. Sri Widiyantoro dari bidang ilmu dasar yang memiliki penemuan mutakhir tentang gempa dan seismologi, Prof. Elin Yulinah Sukandar dari bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi yang menemukan beberapa formula obat, dan Dr. H. C. Rosihan Anwar dari bidang sosial dan Dr. H. C. Taufik Ismail dari bidang budaya.

(3) Mereka itu kritis, rasional dan objektif sebagaimana yang disampaikan dalam Al Qur’an bahwa "Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk dan mereka itulah ulul-albab." (QS Az Zumar (39) ayat 18)

Apakah ulil albab itu hanya memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi secara kritis, rasional dan objektif serta hanya mengambil pelajaran dari alam semesta ini ? Tentu saja tidak ! Ulil albab itu selalu ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri pada saat bekerja, ingat kepada Allah dalam keadaan duduk pada saat belajar , bahkan dalam keadaan berbaring pada saat istirahat tetap ingat kepada Allah [QS Ali Imran (3) ayat 191]. Mungkin banyak orang hanya memenuhi satu atau dua kriteria ulil albab. Oleh karena itu Allah memerintahkan Ulil Albab (1) "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai ulul-albab." (QS Al Baqarah (2) ayat 197). Berbekal tidak hanya waktu haji saja. Dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di hari akhir juga perlu bekal, tetapi sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. (2) Didalam dunia banyak yang buruk yang menarik oleh karena itu, ". . . maka bertakwalah kepada Allah hai ulul-albab, agar kamu mendapat keberuntungan." (QS Al Maa’idah ayat 100]

Jadi kesimpulan yang dapat ditarik menurut Dr. Imaduddin Abdul Rahim "Ulul Albab adalah sama dengan intelektual plus ketakwaan, intelektual plus kesalehan. Di dalam diri ulul-albab berpadu sifat-sifat ilmuwan, sifat-sifat intelektual, dan sifat orang yang dekat dengan Allah Swt." Semoga Dr (fisika) Imaduddin Abdul Rahim merupakan salah satu ulil albab sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam Al Qur’an dan mendapatkan anugrah di sisi Allah.

Wa llahu ‘alam bish shawab.

Minggu, 14 Desember 2008

Ulil Albab (1) : Ibadah ritual saja, mungkinkah ?

Pada hari Minggu, tanggal 16 Nopember 2009 aku pulang dari Jogja dengan membawa mobil sendiri bersama istri. Di Banaran Cafe aku sempat mampir makan dan minum kopi. Setelah segar kuteruskan perjalananku ke Semarang dalam hujan yang sangat lebat. Sampai di rumah kira-kira pukul 18.00. Menjelang pukul 20.00 dada sebelah kanan terasa sakit, semakin lama semakin sakit. Aku tidak tahan lagi. Ku-tilpun sopir dan pergi ke dokter spesialis rematologi. Aku pikir sakitku ini Atritis Gout. Eh..ternyata ada sesuatu sumbatan di jantung. Aku langsung dibawa ke rumah sakit Panti Wiloso Dr Cipto. Enam hari di ICU aku dipindahkan ke Rumah Sakit Dr Kariadi, langsung dari UGD di rawat inap di Pusat Pelayanan Jantung dan Pembuluh Darah. Kaki dan tanganku bengkak karena atritis gout. Setelah atritis goutku sembuh, aku juga merasa jangtungku sudah mulai sembuh dan tidak perlu tindakan medis apapun. Tetapi pada hari Selasa tanggal 2 Desember 2009, aku terasa seperti disambar petir di siang bolong. Dokter memberitahuku bahwa pada hari Jum’at, tanggal 5 Desember 2009 akan di lakukan tindakan Katerisasi. Aku mengatakan kepada dokter apakah tidak ada alternatif lain seperti CT-Scan. Dokter mengatakan, walaupun dengan CT-Scan, akan tetap direkomendasi untuk katerisasi bila terjadi sumbatan. Dari pada dua kali tindakan medis, kan lebih baik langsung Katerisasi. Gambaran katerisasi bagi aku yang awam tentang medis seperti ini. Setelah di suntik “pati-roso”, slang yang sangat kecil dimasukkan ke dalam pembuluh darah dari di pangkal paha (bhs Jawa: selangkangan) sampai ke ujung jantung kemudian diberi semprotan kontras, kemudian di foto. Dari foto ini diketahui apakah ada sumbatan atau tidak. Ternyata dalam jantungku di sebelah depan terdapat dua sumbatan yang berdekatan. Kemudian dipasang satu “ring” di dua sumbatan itu sehingga aliran darah dapat lancar kembali. Mungkin ada yang bertanya, apakah pada saat dikaterisasi ini merasa sakit. Tidak.....Tidak sakit. Dalam proses penyembuhan mulai dari ICU sampai di ruang Katerisasi, aku selalu berdzikir, berdo’a dan tidak pernah meninggalkan shalat. Sebagai penggganti air wudhu, aku tayyamum saja.
Yang menjadi perhatianku, subhanallah...semua peralatan yang ada dalam ruang katerisasi adalah sangat moderen. Ilmu ini tentunya semua berasal dari Allah. Tanpa adanya pemikiran yang sangat intens dan hidayah dari Allah, tentunya tidak akan menghasilkan peralatan katerisasi yang sangat moderen. Nah, bagaimana dengan pemikiran Islam dewasa ini. Kalau Islam hanya menekankan pada ibadah ritual saja, sahadat, shalat, puasa, zakat dan haji serta dzikir, tentunya orang-orang muslim tidak akan menghasilkan temuan-temuan di bidang teknologi baik di bidang kedokteran maupun di bidang lainnya dan umat muslim akan menjadi terbelakang. Islam dewasa ini harus melakukan “
pemikiran ulang” dan mengedepankan akal-pikiran sehingga dapat menelorkan Ulil-albab atau ulama yang memikirkan ayat-ayat kauniyah. Dengan demikian umat muslim akan maju dan dapat bersaing dengan negeri barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Siapa yang yang dimaksud dengan Ulil-albab ? Terjemahan Al Qur’an yang diterbitkan Departemen Agama menterjemahkan Ulil-albab dengan “Orang-orang yang berakal” dan Nabiel Fuad Al-Musawa menterjemahkan dengan “Ilmuwan Muslim”. Sedang Yusuf Ali dan Dr M. Taquid-Din & Dr M. Khan menterjemahkan dengan “men of understanding”. Nah, sekarang kita simak tanda-tanda Ulil-albab itu dalam Al Qur’an.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Inna fee khalqi alssamawati waalardi waikhtilafi allayli waalnnahari laayatin liolee alalbabi,
Allatheena yathkuroona Allaha qiyaman waquAAoodan waAAala junoobihim wayatafakkaroona fee khalqi alssamawati waalardi rabbana ma khalaqta hatha batilan subhanaka faqina AAathaba alnnari

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali Imran (3) ayat 190-191].

Umat Islam dewasa ini sangat memerlukan ulil albab-ulil albab atau ilmuwan muslim atau apapun namanya yang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi termasuk segala isinya. Memikirkan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan bidangnya untuk kemaslahatan umat Islam. Sungguh tidak terpikirkan bagaimana jadinya umat Islam, kalau orang-orang muslim tidak mau memikirkan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Wa llahu ‘alam bish shawab.